Satu Tahun Pembubaran JI, Densus 88 Konsolidasi 48 Eks Anggota di Palembang Perkuat Nilai Kebangsaan

PALEMBANG, SRIWIJAYATERKINI.CO – Memperingati satu tahun pembubaran Jamaah Islamiyah (JI), Densus 88 Antiteror Polri kembali melakukan konsolidasi bersama para mantan anggota JI di Sumatera Selatan.
Sebanyak 48 eks anggota JI dari Kota Palembang dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengikuti seminar transformasi ideologi bertajuk “Jalan Menuju Wasathiyah, Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat” di Fave Hotel Palembang, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan yang digelar Densus 88 Antiteror Polri bersama Yayasan Prasasti Perdamaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dari 48 peserta yang hadir, 29 orang merupakan eks anggota JI asal Kota Palembang dan 19 lainnya berasal dari Kabupaten OKI.
Kegiatan dipimpin langsung Kasatgaswil Sumsel Densus 88 AT Kombes Pol Beni Kusworo, S.I.K., M.H., bersama jajaran Satgaswil Sumsel.
Sejumlah unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Kakanwil Kemenag Sumsel Dr. Syafitri Irwan, S.Ag., M.Pd.I., Dir Intelkam Polda Sumsel Kombes Pol Tony Budhi Susetyo, S.I.K., M.H., Sekretaris PWNU Sumsel Ir. Achmad Syaifudin Zuber, Ketua FKPT Sumsel Drs. H. M. Yamin, M.Si., Kaban Kesbangpol Sumsel Drs. H. Arinarsa JS, perwakilan Baznas Provinsi dan Kota Palembang serta Kasat Intelkam Polrestabes Palembang.
Penguatan Pemahaman dan Nilai Kebangsaan
Seminar menghadirkan tiga narasumber dari Rumah Wasathiyah, yakni Ustaz Para Wijayanto, Ustaz Choirul Anam alias Bravo dan Ustaz Suhardi alias Abu Hasan.
Materi yang diberikan berfokus pada transformasi pemahaman, pentingnya ilmu dalam memahami ajaran agama, sikap moderat, toleransi serta penerimaan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ustaz Suhardi alias Abu Hasan dalam sesi muqaddimah menekankan pentingnya ilmu sebagai landasan dalam mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman.
Menurutnya, keterbukaan untuk kembali kepada kebenaran berdasarkan ilmu merupakan bagian penting dalam proses perubahan pemikiran.
Ia juga menekankan bahwa melakukan koreksi terhadap pemahaman bukan sesuatu yang harus dipandang sebagai kelemahan ketika terdapat dasar ilmu yang lebih kuat.
Sementara itu, Ustaz Para Wijayanto menyampaikan materi mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara dari perspektif keagamaan.
Ia menjelaskan adanya ruang ijtihadi dalam kehidupan bermasyarakat yang memungkinkan manusia menyusun aturan untuk mengatur kepentingan bersama dan menciptakan kemaslahatan publik.
Para Wijayanto juga menekankan agar perubahan pemahaman dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang tertib serta tidak mengarah pada sikap ekstrem.
“Gerakan berkomitmen untuk beralih dari wacana menuju aksi nyata yang tertib dan menghindari sikap ekstrem, baik yang keras maupun liberal-sekuler,” ujarnya.
Konsolidasi Setelah Pembubaran JI
Momentum satu tahun pembubaran JI juga dimanfaatkan untuk membahas proses konsolidasi para mantan anggota organisasi tersebut.
Dalam seminar disebutkan bahwa sebagian besar anggota telah menyepakati keputusan pembubaran JI. Sementara itu, komunikasi dan pendekatan dialogis masih dilakukan kepada pihak yang belum sepenuhnya memiliki pandangan yang sama.
Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga komunikasi serta mencegah terjadinya perpecahan di antara para mantan anggota.
Pembahasan juga menekankan pentingnya menempatkan kehidupan bermasyarakat dalam suasana damai dan menjalankan aktivitas sosial secara tertib dalam kerangka kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada sesi tanya jawab, sejumlah peserta turut menyampaikan pertanyaan terkait makna pembubaran JI serta kehidupan setelah tidak lagi berada dalam struktur organisasi tersebut.
Salah satu peserta, Joniyanto, yang merupakan eks narapidana terorisme (napiter) JI, menanyakan mengenai manfaat pembubaran JI.
Sementara peserta lainnya, Munawirul Anwar, mempertanyakan apakah pembubaran tersebut merupakan bagian dari strategi tertentu.
Pertanyaan para peserta kemudian dijawab narasumber dengan penjelasan mengenai pentingnya menjalankan keputusan yang telah disepakati serta menyesuaikan sikap dan strategi dengan kondisi kehidupan yang dihadapi.
Diakhiri Refleksi dan Komitmen Kebangsaan
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa untuk negeri, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan dari Kasatgaswil Sumsel Densus 88 AT dan Kakanwil Kemenag Sumsel.
Peserta juga menyaksikan film refleksi mengenai perjalanan satu tahun setelah pembubaran Jamaah Islamiyah.
Setelah seluruh materi dan sesi diskusi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengisian kuesioner, foto bersama dan menyanyikan lagu “Padamu Negeri”.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib dan lancar.
Kegiatan konsolidasi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari proses transformasi pemahaman para eks anggota JI di Sumatera Selatan, sekaligus memperkuat sikap moderat, toleransi, penghormatan terhadap keberagaman dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Penguatan tersebut diarahkan agar para mantan anggota JI dapat menjalani kehidupan bermasyarakat secara damai serta berkontribusi positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).(DHO)








